FILOSOFI HIDUP BUYA HAMKA ~ AKAL~

Minggu, 20 November 2011 m.facebook.com/profile.php?id=1288255568&refid=48


Falsafah hidup Buya Hamka (H.
Abdul Malik Karim Amrullah)
dipublikasikan penerbit Djajamurni
Djakarta Djuni`1970//masih
menggunakan ejaan lama...


AKAL


Apakah yang dikatakan akal? ‘Aqal
diambil dari kata aslinya yang
artinya, ikatan. Nama ini telah
cocok betul dengan pengambilan,
karena ibarat tali mengikat unta,
maka akal itu mengikat manusia.
Dalam pepatah Melayu pun telah
ada: “Mengikat binatang dengan
tali, mengikat manusia dengan
akalnya.”

Jadi sebagaimana tali mengikat
unta supaya jangan lari, akal
manusia mengikatnya pula supaya
jangan lepas lelas saja mengikuti
hawa nafsunya.

Amir bin Abdul Kudus berkata :

Pada istilah, artinya makna yang
dimaksud dengan akal setelah
dipindahkan daripada maknanya
yang asli menurut bahasa itu, ialah
“Pengetahuan akan perkara yang
mesti diketahui.” Dia pun terbagi
dua, pertama yang didapat dengan
panca indera, yang kedua
permulaannya dalam diri.

Yang didapat dengan pendapatan
(pengetahuan yang didapat
melalui) panca indera ialah
seumpama bentuk yang terlihat
dengan mata, sehingga dapat
ditentukan merah atau putihnya,
besar atau kecilnya. Atau suara
yang didengar oleh telinga,
sehingga dapat ditentukan merdu
atau badaknya, jauh atau
hampirnya. Demikian juga
perasaan lidah asin manis atau
asamnya. Atau bau yang didapat,
harum atau busuknya. Perasaan
kulit, kesat atau lunaknya.

Adapun akal yang permulaannya
dari dalam diri sendiri itu, adalah
seumpama pendapat bahwa suatu
perkara ada atau tidak ada, atau
suatu benda qadim atau hadis,
bahwasanya gerak dan diam tidak
bisa berkumpul atau satu itu
kurang dari dua. Hal yang begini
tidaklah akan sunyi daripada
orang yang berakal. Asal saja
sudah tahu dia hal yang mesti-
mesti itu (dharuri) sudah boleh dia
dinamakan sempurna akal.

Makna demikian tidaklah
kesalahan dengan ilmu modern.
Akal dengan ilmu itu satu adanya.
Karena menurut pengetahuan akal
itu kumpulan daripada
pendapatan (pengetahuan yang
diperoleh) panca indra, kemauan
(iradah) dan pikiran.

Ada juga yang mengatakan bahwa
akal itu pendapat yang
diusahakan, yang menyebabkan
manusia dapat mengatur
pekerjaannya dengan beres dan
mengetahui akibat atau laba dan
ruginya.

Suatu kaum pula berkata, bahwa
dengan begitu saja belumlah dapat
dia dihitung seorang berakal.
Orang yang berakal ialah orang
cerdik cendikia, arif bijaksana, tahu
meagak- meagihkan
(mempertimbangkan). Seorang
Hukama berkata:

“Penderitaan menyebabkan putih
rambutnya yang hitam,
pengalaman membasuh
jantungnya, kejadian selalu hari
yang dilihat didengarnya
memupuk jiwanya (peristiwa-
peristiwa yang dialami tidak
dibiarkan berlalu saja, tapi dicari
hikmahnya). Karena percobaannya
(pengalaman pahit/cobaaan
hidup), kenallah dia akan awal dan
akhir, pangkal dan akibat. Orang
beginilah yang patut disebut
berakal. Adalah dia dalam kaumnya
mengarah-arahi (dalam kehidupan
bermasyarakat seorang berakal
senantiasa membimbing siapa pun
agar tak tergelincir berbuat salah),
Nabi di dalam umatnya, menjadi
pilihan Tuhan buat mengirit
merentangkan (mengarahkan
sesuai dengan agama), berjalan di
barisan muka. Maka mengalirlah
dari sumber ketangkasannya dan
dari kecerdikan akalnya serta
lautan ilmunya, segala perkara
yang dapat ditiru diteladan,
dijadikan pedoman di dalam
tujuan hidup.”

Maka orang berakal demikian
adalah orang yang telah mendapat
inayat/inayah dari Allah.
Barangsiapa yang mendapat
inayat/inayah demikian lebih kaya
dia daripada milyuner. Sebab dari
batinnya memancar cahaya
hidayah Rabbaniyah. Hatinya
penuh dengan kebijaksanaan,
sangkanya baik, pengharapannya
besar. Orang lain hanya menilik
seseuatu dari kulitnya sedang dia
sampai ke dalam isinya. Sukar dia
tergelincir dengan sengaja.

Menurut pendapat-pendapat Ahli-
Ahli Ilmu Jiwa, akal bukanlah suatu
sifat yang berdiri sendiri, tetapi
lebih daripada tiga sifat jiwa, yaitu
pikiran, kemauan, dan perasaan
(al-wijdaan, al-fikr, al-iradah): rasa,
periksa dan karsa.

Panca indra yang lima adalah alat-
alat untuk menangkap segala
sesuatu yang maujud untuk
dimasukkan ke dalam pikiran.
Timbulnya pikiran diikuti oleh
kemauan hendak menyelidiki, dan
perasaan yang timbul baik senang
atau sakit, gembira atau sedih
ketika melihatnya, semuanya
menimbulkan pengetahuan atas
yang dilihat itu. Maka itulah yang
bernama akal. Ketiga-tiganya itu
bekerja sama menghadapi soal-
soal yang tengah dihadapi,
lantaran dibawa oleh panca indra
itu.

Misalnya seseorang yang tengah
berjalan di suatu tempat yang sepi,
alam kelihatan indah, maka
timbullah padanya perasaan,
adakalanya hati-iba melihat
keindahan, ketakjuban dan
kesepian karena tidak ada teman
seorang jua. Melihat keindahan itu,
timbullah kemauannya (iradah)
hendak mengetahui sebab dan
musabab daripada segala
keindahan itu, maka mulailah
bergerak jalan pikirannya.
Kumpulan kerjasama ketiganya itu
bernama akal. Di sana timbullah
ma’ rifah (pengetahuan). Kian lama
orang hidup, kian berasalah ia
akan soal-soal yang akan
memperluas pikiran, memperteguh
kemauan dan mendorong untuk
menggunakan pikiran.

Di tiap-tiap manusia tidaklah sama
kuat atau lemahnya ketiga sifat itu.
Tetapi, tidak pula ada orang yang
hanya ada padanya salah satu saja.
Ada orang yang amat halus
perasaannya, sehingga dia
menjadi seorang ahli seni ternama.
Tetapi di dalam menciptakan
seninya, selalu dipakainya juga
pikiran dan kemauan. Ada failasuf
yang amat dalam pikirannya, tetapi
di dalam menciptakan pikiran yang
besar itu,dia tidak dapat
melepaskan alat kemauan dan dan
perasaan dirinya. Dan ada pula
seorang kepala perang yang keras
kemauan, atau seorang ahli negara
yang mempunyai kemauan teguh
hendak memerdekakan negaranya
daripada penjajahan asing, tetapi
kemauan yang keras yang itu, asal
mulanya adalah karena ditekan
oleh perasaan sedih melihat nasib
bangsanya, atau murka melihat
kezaliman penjajahan asing, lalu
dipergunakan segenap pikirannya
untuk mencapai kemauannya itu.

Pengetahuan tentang susunan
syair dan roman yang indah dari
seorang pujangga, adalah hasil
dari rasa keindahan yang
disokong oleh pikiran dan
perasaan yang halus.
Pengetahuan tentang satu pikiran
filsafat yang tinggi, adalah hasil
suatu pikiran yang besar, disokong
oleh perasaan dan pikiran. Dan
ilmu peperangan dan perjuangan
adalah hasil daripada kemauan
yang teguh, disokong oleh pikiran
yang sehat dan perasaan yang
mendesak.

Kadang-kadang ada juga ahli ilmu
jiwa yang mengatakan bahwa
yang pertama sekali , bukanlah
pikiran, melainkan pengetahuan.
Pengetahuan itu datang lebih dulu
setelah di ” import ” oleh kelima
panca indra ke dalam diri.Tetapi
pengetahuan (ma’rifah) pada rasa
kita tidaklah mungkin
(sebagaimana yang kita tahu),
sebelum pikiran berjalan. Sebab
kerapkali meskipun mata kita
mengembang luas dan telinga kita
mendengar nyaring, karena
perhatian kita tidak terhadap ke
sana (syu’ur), maka tidaklah ada
pengetahuan kita tentangnya (saat
kita tidak berkonsentrasi,
sekalipun penglihatan mata jelas
dan pendengaran telinga tajam,
biasanya kita luput memahami soal
yang kita sedang selidiki). Seorang
yang berjalan seorang diri tengah
memikirkan suatu soal dengan
sangat tekun, tidaklah dia sadar
seketika ditegur (disapa) orang
yang bertemu di jalan. Sudah
melangkah jauh, baru dia sadar
kembali setelah pikirannya
terhadap kepada siapa yang
menyapanya (ia tersadar setelah
pikiran mulai berkonsentrasi pada
orang yang sebelumnya menegur,
bertanya-tanya siapa yang
menyapa dirinya barusan itu.).


Inilah rahasia akal, menurut
pendapat ahli-ahli ilmu jiwa zaman
sekarang.
Sedikit tersirat, bahwa dengan
Akal persoalan terselesaikan
dengan lebih bijak,,karena
melihat dari segala sisi secara
mendalam. semoga
bermanfaat :)

WebRepPredikat secara
keseluruhan

1 komentar:

Ayusa Didiet Abrirreo mengatakan...

Maaf sebab ada kendala memposting link sumbernya saya tempatkan di sini. Postingan di dapat dari catatan Ervina Wahyuningsih

Posting Komentar

TEMAN

F